Belajar tentang kehidupan-Mbak Sari

Standard

Aku ingin berbagi cerita

Seminggu yang lalu, aku berjumpa dengan mbak muda, sebut saja namanya Sari..Aku berjumpa dengannya saat sedang mengantri dokter..

“Mbak ke dokter siapa?” sapaku mengawali percakapan
“Dokter Andon, lagi nunggu dipanggil buat bayar nih” balasnya dengan senyum

Seperti biasa, aku dengan ramah berbasa basi sampai akhirnya dia bercerita banyak tentang kehidupan rumah tangga dan keluarganya, yang tentu saja menjadi masukan yang berharga buatku..tak ada salahnyalah aku berbagi cerita..

Beberapa point yang aku ingat tentang perkataannya :
– Sebelum si mbak menikah dengan suaminya yang sekarang, pernah berpacaran selama 8 tahun tetapi putus. Tak lama dari putus, dia berjumpa dengan sang suami, tak sampai setahun pacaran mereka menikah. Ohiya, si mbak ini orang padang, sang mantan juga orang padang tetapi akhirnya menikah dengan orang jawa. Itulah, jodoh sudah ada yang mengatur, sekuat apapun kita bertahan kalau memang bukan garisan Tuhan, tidak akan terjadi. Tidak perlu kita khawatir akan hal itu. Tuhan baik dan tepat waktu untuk mempertemukan kita dengan jodoh kita.

– Si mbak ini dididik dari kecil dengan didikan ala militer, keras dan otoriter, kebiasaan tersebut terbawa sampai dia berumah tangga. Sedangkan, sang suami tipe demokratis, segala hal harus dibicarakan musyawarah mufakat. Awal pernikahan, si mbak lebih banyak menguasai pembicaraan, tidak bisa menerima pendapat orang lain. Tetapi, sang suami dengan sabar memberi pengertian dan si mbak mulai berfikir, ah benar juga katanya. Pelan-pelan si mbak mulai berubah, belajar mendengarkan pendapat orang lain. Dari hal ini, aku belajar sesuatu, sifat dan sikap seseorang dapat berubah walaupun itu membutuhkan proses selama memang ada keinginan dari diri individunya untuk berubah.

– Si mbak ini berbeda suku dengan sang suami, berbeda latar belakang, berbeda kebiasaan, berbeda selera makanan. Tapi mereka dapat mengontrol ego masing-masing dan bertenggang rasa atas keinginan masing-masing. Setiap keluh kesah dikeluarkan saja, jangan dipendam, apa adanya saja, katanya.

– Setiap tahunnya akan selalu ada kejutan yang baru dari kehidupan berumah tangga, bisa dari keluarga kita atau dari pihak luar. Entah cobaan atau peruntungan, terimalah segala macam kejutan dengan lapang dada dan ikhlas jalaninya.

– Si mbak berpesan, kalau sudah berumahtangga, wanita tetap harus menjaga badannya dan alat vitalnya. Biar bagaimanapun, rumput tetangga itu lebih hijau, belum lagi wanita zaman sekarang tidak malu menjadi istri kedua ketiga bahkan simpanan. Ah sungguh sulitnya menjadi wanita.

– Usia itu hanya angka, kedewasaan itu pilihan. Jika ingin memutuskan berumah tangga, yakinkan kalau telah siap mental dengan segala resiko, karena berumah tangga tidak semanis yang dipikirkan. well said, i think.

– Dan satu hal lagi, si mbak berkata, jika kamu ingin menyentuh surga maka tunduklah apa kata suamimu, saat kamu telah menikah nanti, derajat suamimu lebih tinggi dari orang tua, membantah apa kata suami, kamu tidak akan mencium wangi surga. *dheg*

Itu saja yang aku ingat, yah maklum, short term memory..seperti yang aku pernah katakan, kata-kata yang menyakitkan lebih diingat daripada yang indah-indah bukan. Manusiawi kan? *pembenaran*

Itulah penggalan pembicaraan antara aku dan mbak Sari yang menjadi masukan buat hidupku.

Jadi, sudah cukup dewasa dan siapkah kalian memasuki fase selanjutnya?

Bismillah saja..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s